Morning Coffee

Pagi hari. Ketika matahari belum menyingsing, pikiran saya sudah terngiang tentang tugas kerja yang masih menumpuk. Di sisi lain saya ingin sekali untuk bisa menulis walaupun hanya sedikit. Dari pengalaman yang sudah lalu, niat hati ingin menulis setelah bekerja menjadi loyo larut karena punggung sudah capek duduk seharian menatap laptop. Maka kini lebih baik kita menulis di awal waktu saja, sebelum memulai kerja. waktu tersebut saya kira adalah waktu yang tepat. Selain otak dan bada masih fresh, udara sekitar juga mendukung. Dan perkiraan saya tepat, karena tulisan ini tercipta ketika waktu itu datang.

Hari berganti, waktu berjalan dan umur semakin menipis, tetapi keinginan, harapan dan ambisi semakin membesar. Semakin tahu diri kita akan sesuatu atau pun semakin banyak hal dijejalkan ke otak kita, semakin besar pula harapan dan ambisi kita untuk meraih sesuatu yang menggantung di atas kepala kita sebagai sebuah imajinasi. Sebuah dilema, namun memang tidak bisa dihindari lagi. Apalagi seorang muslim yang tahu bahwa dirinya adalah hanya seorang hamba (abdillah), maka tiada waktu yang ada selain hanya memenuhi kewajiban seorang hamba. Hamba yang banyak maunya.

Saya masih ragu sebenarnya akan keinginan saya yang paling haqiqi. Banjiran hasrat duniawi di kepala kadang membuat saya malas untuk berpikir. Kemarin dulu saya sadari bahwa itu terjadi karena imbalance energy di dalam diri. Seperti ketika para olahragawan menggerakkan tubuhnya secara kontinyu pada anggota tubuh tertentu dan statis, maka asam laktat akan mengumpul dan menjadikannya capek, pegel pada bagian tubuh tersebut. Sama dengan otak dalam tempurung kepala. Maka perlu dibalancing dengan kerja berkebalikan antara raga, akal, kerja dan istirahat. Tapi ada satu yang memang masih belum balance, yaitu karena status saya. Pret lahh.

Waktu ini sedang mulai hiruk pikuk panggung politik, yang dibumbui dengan berbagai kejadian kolosal. Bencana dan even-even khusus seperti asian games mewarnai politik Indonesia. Jika melihat keadaan politik saya jadi pesimis akan masa depan negara ini, namun jika melihat betapa besar cinta masyarakat ketika mendukung tim atlet bermain saya menjadi optimis lagi. Benar memang, negeri ini lucu. Jika ada musuh bersama, betapa senangnya hati ini melihat anak negeri bekerja sama, bersatu dan rela berkorban. Namun jika masa damai telah tiba (walaupun damai yang semu) kita bingung mendefinisikan musuh lalu bergerak kesetanan hingga menabrak saudara kita sendiri. Menabrak tidak hanya kita lihat secara fisik, namun secara verbal dan intelektual pun bisa.

Semua hal yang telah dan sedang terjadi ini memang bumbu dari masakan kehidupan kita. Entah makanannya terasa enak atau tidak, kita sukai atau benci tetapi semua ini tetap bergizi dan kita butuhkan. Kog bisa tau makanan ini bergizi? Karena yang menghidangkan adalah Tuhan Semesta Alam langsung dan pemberiannya mustahil meracuni diri kita. Hanya saja ketika kita dapat makanan yang tidak kita sukai kadang kita tidak mau makan dan anti terhadap makanan itu sampai-sampai kita sendiri yang masuk angin dan hampir mati karena mencret air. Fabiaayyi aalaa I robbika tu kadziban.

24. August 2018 by wahyudinprasetyo
Categories: learn, opinion | Leave a comment

Antara Pribumi-Pendatang

Orang pada zaman ini memang begitu mudah sekali dan begitu bebas membuat definisi terhadap sesuatu. Apalagi jika tidak jelas siapa sesungguhnya yang emiliki wewenang untuk membuat sebuah definisi terhadap sesuatu. Hal yang beberapa waktu lalu sempat membuat cuaca semakin anget adalah penyebutan kata ‘pribumi’ oleh Gubernur baru Jakarta. Sudah jelas sebenarnya maksud dari penyebutan kata tersebut jika orang mau membaca isi pidatonya sejak awal, utuh hingga akhir. Jika pun disangkutkan atau dikaitkan dengan masalah ‘terkini’ akan sama saja. Namun tetap saja dan akan selalu ada pihak yang kurang sabaran atau pun mudah marah atau pun juga lawan politiknya yang hanya memotongnya dan diartikan keluar konteks keseluruhan pidato tersebut.

Menurut saya, pribumi adalah orang yang sudah lama bermukim di suatu tempat dan telah berbaur dengan baik dengan habitat dan komunitas dan menjadi bagian di dalamnya. Ukuran lamanya berapa adalah yang menjadi soal karena kita tidak mengetahui juga bagaimanan sebuah kaum/bangsa itu mendapatkan tanah itu caranya baik atau tidak. Kita ketahui sendiri, perang, saling mengalahkan, saling menundukkan adalah hal yang sudah terjadi sejak lama.  Manusia silih berganti datang saling bergantian menduduki tanah yang sama. Ukuran baik buruk pun berbeda yang membuat semuanya menjadi semakin absurd. Sampai pada titik ini saya menjadi semakin bingung karena tidak mengerti mana ukuran yang tepat untuk bisa mendefinisikan semuanya. Maka dari itu, dengan kasar saya definisikan bahwa pribumi adalah siapapun yang telah mendiami sebuah tempat secara turun menurun, dari generasi ke generasi yang telah menjalin ikatan yang baik dengan lingkungan sosial dan alam sekitar yang kemudian memiliki hak di dalamnya dan berperan baik terhadap lingkungannya dan keberadaannya diakui.

Saya teringat dengan film Leonardo Di Caprio, Gangs Of New York. Clash terjadi antara penduduk pendatang baru dari Irlandia (kalo gak salah) yang merasa dianiaya dengan penduduk yang mengaku dirinya sebagai pribumi (native) yang sebenarnya juga pendatang. Mungkin mereka melupakan suku indian yang sudah lebih dahulu menempati daerah itu atau bisa jadi menganggap bahwa suku indian tersebut bukan manusia. Tak tau lah saya pikiran barat itu bagaimana. Etika dan moral dalam dunia yang penuh dengan ambisi materialisme memang sudah musnah, hingga mereka mengaku-aku bahwa penemu benua amerika adalah Christopher Columbus.

Menurut definisi yang saya buat sendiri di atas (maaf), tidak ada pengolongan ras, agama, adat yang mengotori istilah pribumi. Pada hari-hari biasa istilah pribumi tidak berlaku, namun ketika ada pendatang baru dengan sifat negatif yang dibawanya dan berpengaruh buruk terhadap lingkungan maka muncullah istilah pribumi dan pendatang. Kemunculan istilah ini adalah otomatis, datang sendiri secara tiba-tiba, muncul dengan pemikiran bahwa terjadi ketidakadilan dan kerusakan. Tumbuhlah barrier sosial dan kemudian semakin meluas pada barrier-barrier yang lain sesuai dengan tingkat kerusakan yang ada. Contoh kongkritnya apa? Contohnya langsung di sini, Indonesia, Pulau jawa. Orang-orang Arab, Cina, India yang membawa misi keagamaan dan dagang yang datang berbabad-abad yang lalu tidak pernah menimbulkan konflik yang berarti yang tercatat dalam sejarah. Bahkan pengaruh pendatang itu dalam hal agama sangat lekat sekali pada penduduk asli. Pintu gerbang dibuka dengan lebar dan disambut dengan baik. Namun ketika pendatang datang dengan misi Gold dan Glory nya, yaitu kolonial Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, dan Kekaisaran China dan Mongol, segala macam barrier   mulai terbentuk karena terjadi ketidakadilan dan perampasan hak.

Saya kira drama pribumi-pendatang akan senantiasa muncul selama terjadi ketidakadilan dan perampasan hak. Jika sekarang kita menggunakan ukuran ras, agama dan Adat maka kita seperti me’lucu’kan diri sendiri. Kenapa? Karena semuanya sudah campur bawur. Orang hindu banyak yang menjadi Islam, yang Islam ada yang murtad, orang Cina kawin dengan orang Jawa, yang jawa diambil menantu olah keluarga Minang. Ibunya Mbah Buyut saya itu orang Cina, Namanya Pin Ciang. Ini adalah fakta dan baru saya tahu ketika pas kelas 3 SMA dahulu dimintai Mbah Bardi, Adik Eyang Putri saya untuk mengetikkan atau mendigitalisasikan silsilah keluarga besar saya. Muka saya yang jawir ini, dengan kulit yang jika lama di dalam ruangan akan menjadi kuning namun jika keluar naik gunung sekali langsung jadi sawo mateng, ternyata mbah saya adalah orang Cina. Lantas saya ini sebenarnya pribumi atau pendatang? Bingung to? Podo!

01. November 2017 by wahyudinprasetyo
Categories: learn, opinion | Leave a comment

blog baru .web.ugm

Selepas yudisium kemarin saya pengen mampir menengok blog yang sudah terbengkalai ini. Tetapi saya rupanya lupa alamatnya, terpaksa tanya mister google. Dari situ saya malah heran, kog malah masuk ke halaman baru yaitu .web.ugm.ac.id. Blog saya berdomain wahyudinprasetyo.web.ugm.ac.id Wah, saya pikir ini pasti sudah dimigrasikan menjadi web ugm. Dashboardnya sama, tetapi isinya masih kosong. Kemudian saya coba masuk ke url blog yang lama, yang wahyudin-prasetyo.blog.ugm.ac.id dan bisa masuk juga ke blog yang lama.  Sayangnya, saya lupa cara loginnya. Baru hari ini, ketika artikel ini ditulis saya baru bisa.

Jadi pada intinya saya sekarang punya dua tempat di server ugm, satu bentuk blog dan satu bentuk semi blog gitu lah. haha. Kemungkinan nanti blog ini hanya jelas akan berisi blog biasa, sedangkan yang .web akan kita pergunakan untuk hal yang lebih bersifat profesional. Semoga semuanya berkah dan menjadikan dokumentasi serta publikasi ilmu dan pengetahuan.

01. November 2017 by wahyudinprasetyo
Categories: tak terkategori | Leave a comment

← Older posts